TeDi

Terlihat dan Ditemukan, Di Inkubasi oleh BISMA

Bapak Juhri adalah sosok lelaki paruh baya yang mempunyai kemampuan memandikan jenazah tanpa mau menetapkan tarif (non komersil).

(Gb. Ilustrasi)

Figur Ayah 4 orang anak ini begitu segerhana, jujur dan bersahaja, di usianya yang memasuki kepala 7, beliau masih mampu bekerja keras menjadi seorang marbot di salah satu masjid yang berada di dekat rumahnya yang sederhana. Penghasilannya sebagai marbot hanya Rp. 250.000,-/bulan, namun dengan penghasilan sekecil itu beliau ternyata memiliki rasa kepedulian terhadap sesama yang begitu tinggi.

Seperti halnya ketika penulis melihat seorang musafir dengan pakaian kumal yang datang ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur, musafir tersebut terlihat begitu lelah nampak dari guratan wajahnya yang pucat dan bibirnya yang kering. Selesai shalat, tanpa sungkan bapak Juhri menghampiri musafir tersebut, setelah berbincang sejenak beliau sedikit terkejut begitu mengetahui musafir tersebut ternyata baru saja mengalami musibah, tasnya yang berisi uang, alat komunikasi dan pakaian telah hilang di curi orang, tinggal yang melekat di badan saja yang tersisa, musafir tersebut berasal dari Sumatera Barat dan baru pertama kalinya datang ke Jakarta bermaksud mengunjungi sanak saudaranya di Pulo Gadung.

Setelah mengetahui musibah yang dialami musafir tersebut tanpa basa basi bapak Juhri langsung mengajak musafir tersebut datang ke rumahnya, diberilah musafir tersebut makan dan minum dan uang sebesar Rp. 50.000,- untuk ongkos kerumah saudaranya. Padahal penulis tahu bahwa uang Rp. 50.000,- itu adalah uang semata wayang yang di miliki oleh Bapak Juhri karena sebelumnya beliau telah bercerita kepada penulis bahwa dia ingin membelikan tas sekolah pada cucunya yang seorang yatim namun masih kurang karena uangnya baru ada Rp. 50.000,-.

"Berbagi di saat anda hidup mewah itu sudah seharusnya, namun berbagi disaat anda hidup susah itu sungguh LUAR BIASA"  -eet junet-

Di jaman sekarang ini mencari sosok seperti bapak Juhri laksana 'mencari sebatang jatum di tumpukan jerami'. Pun demikian halnya dengan kemampuannya memandikan jezah , bapak Juhri lebih mengedepankan rasa sosialnya dibandingkan sifat komersilnya, padahal memandikan jenazah itu tidak semudah yang kita bayangkan, dibutuhkan keahlian dan keterampilan khusus terutama mental yang sangat kuat. Kemampuan memandikan jenazah beliau di dapat secara otodidak dari almarhum mertuanya Kakek Djafar bin H. Sobari.

Bapak Juhri sangat berpengalaman dalam memandikan jenazah, beliau juga pernah memandikan jenazah orang yang meninggal dunia karena kecelakaan seperti : tewas tersengat listrik, tewas tenggelam di sungai, kecelakaan lalu lintas dan lain sebagainya. Atas seijin Allah SWT beliau juga ternyata mampu melemaskan otot-otot yang kaku pada jenazah orang yang meninggal karena kecelakaan hingga seluruh anggota tubuh yang kaku pada jenazah tersebut dapat di gerakkan sesuai dengan posisi yang di anjurkan dalam ajaran Islam. Atas permintaan seseorang beliau juga pernah di minta untuk memandikan jenazah di luar kota. Sekali lagi semuanya NON KOMERSIL, itulah luar biasanya beliau.

Penulis menulis artikel ini tak lain adalah ingin mengajak kita semua untuk bercermin pada diri kita masing-masing agar kita mampu belajar dan memetik sebuah pembelajaran dari kisah hidup seorang marbot masjid dan pemandi jenazah yang bersahaja yang bernama Bapak Juhri.

Jika anda tertarik dengan artikel ini dan membutuhkan bantuan dari bapak Juhri atau hanya ingin sekedar bersilaturahmi dengan beliau silahkan berkunjung ke rumah beliau yang sederhana di Jl. Galur Selatan No. 26 Jakarta Pusat atau dapat menghubungi penulis di 0853 11133 634 penulis bersedia menjembatani tali silaturahmi anda dengan beliau.

Tags: Jakarta, Jasa, Jenazah, Memandikan, Pusat, di

Views: 67

Reply to This

© 2021   Created by Ali Akbar - BISMA Founder.   Powered by

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service