TeDi

Terlihat dan Ditemukan, Di Inkubasi oleh BISMA

Menjadi orang miskin sungguh tidak enak. Puluhan tahun saya menjalaninya. Saya tinggal di tengah hutan Propinsi Lampung, makanan sehari-harinya cukup tiwul (dari singkong) dan jagung.

Menjadi orang miskin sungguh tidak enak. Karena miskin, saya  pernah menyaksikan orang tua dicaci maki lantaran tak sanggup membayar hutang. Sayapun pernah melihat dan mendengar langsung betapa Bapak direndahkan dan dihina sejadi-jadinya hanya karena hendak meminjam uang Rp 300 ribu agar saya bisa berangkat kuliah ke IPB (Institut Pertanian Bogor). Bersyukur ketika itu ada mas Paijo, berkat kebaikan hatinya penjahit pakaian ini meminjami kami uang Rp164 ribu sehingga saya bisa berangkat menuntut ilmu di Kota Hujan.

Karena miskin, untuk menghemat pengeluaran, ketika kuliah saya tidak kost melainkan tinggal di masjid Al Ghifari IPB selama 2 tahun. Perjuangan masih panjang namun pertolongan juga belum berhenti. Saat kehidupan saya di Bogor tengah sulit-sulitnya, kang Paiman, saudara saya yang hanya penjaga sekolah SD, mengirimkan wesel Rp 50 ribu rupiah –pada tahun 80-an itu adalah nominal yang sangat berarti.

Puncaknya, karena miskin, saya nyaris  dikeluarkan dari IPB gara-gara menunggak uang kuliah (SPP). Bersyukur, menjelang detik-detik batas akhir pembayaran Dedeh Wahidah, sahabat saya, membantu melunasi SPP 1 semester sebesar Rp75 ribu.

Alhamdulillah, kehidupan mulai berubah setelah saya serius berbisnis sambil kuliah. Saya bahkan bisa mengajak adik saya Siti Rohimah kuliah di IPB dan mengkuliahkan adik bungsu, Barokatun, di Yogyakarta. Siti saat ini mengelola lembaga pendidikan yang kami dirikan di Lampung. Barokatun menjadi PNS di Departemen Agama Propinsi Lampung.

Bercermin pada pengalaman hidup tersebut saya menyakini bahwa salah satu cara memutus rantai kemiskinan adalah dengan berbisnis atau berwirausaha. Memang benar bangku kuliah mengajarkan banyak ilmu dan pengetahuan, tetapi saya mendapatkan gemblengan mental dan bekal hidup dari kampus kehidupan sesungguhnya yaitu saat saya berbisnis.

Itu pula yang kemudian menggugah kami dan teman-teman, didukung Yayasan Amalul Muzaki, mendirikan Pesantren Wirausaha Agrobisnis di Delanggu Klaten Jawa Tengah sejak tahun 2000. Kami berikhtiar memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Di pesantren ini, selama setahun para santri yang berasal dari keluarga tak mampu digembleng agar mampu mandiri berwirausaha sekaligus jadi dai (juru dakwah) di tengah-tengah masyarakat.

Awalnya setiap tahun kami hanya menerima 20 calon pengusaha. Tetapi saat ini kami mampu menggembleng 36 calon pengusaha setiap tahun. Alhamdulillah, para lulusannya saat ini sudah banyak yang memiliki usaha dengan karyawan puluhan orang. Walhasil, bukan hanya  ratusan alumni yang terputus rantai kemiskinannya, tetapi masyarakat sekitarnya juga sudah banyak yang terbantu. Sekelumit kegiatan penggemblengan calon wirausaha bisa dilihat di www.PesantrenWirausaha-aba.net.

Melalui tulisan ini izinkan saya mengajak Anda menjadi seperti mas Paijo, kang Paiman atau Dedeh Wahidah yang ikhlas mengulurkan tangan kepada mereka yang sedang berjuang mengentaskan dirinya dari kemiskinan. Walau mungkin bantuan itu tampak kecil namun, saya tahu pasti, dampaknya sangatlah besar.

Anda bisa membantu langsung orang-orang yang Anda kenal. Atau, melalui lembaga yang teruji dan terpercaya. Sekecil apapun bantuan itu akan sangat besar artinya. Semoga rantai kemiskinan itu satu per satu terputus dan salah satunya melalui Anda. Sumber (www.JamilAzzaini.com)

Views: 58

Tags: Besar, Kecil, Tapi

Comment

You need to be a member of TeDi to add comments!

Join TeDi

© 2020   Created by Ali Akbar - BISMA Founder.   Powered by

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service