TeDi

Terlihat dan Ditemukan, Di Inkubasi oleh BISMA

Oleh AR. Patiwi, Life Inspirator & Trainer

Pada saat saya ditawari menjadi kolom pengasuh tetap dalam acara Forum Konsultasi & Pencerahan, yang meliputi seputaran pengembangan  Soft skill, Mind-set Leadership dan Karier di sebuah majalah Inspirasi Usaha, ada yang bertanya seperti ini: “Mas aku bingung, sudah tak tau berapa banyak profesi yang aku geluti, berpindah dari satu ke yang lain namun semua itu sepertinya tak membuahkan hasil maksimal, kalaupun berhasil maka hasilnya sangat pas-pasan, bahkan minus. Padahal saya ingin sesuatu yang lebih, biar bisa berbagi pada orang yang aku cintai sekaligus pada sebanyak mungkin orang.”

Pertanyaan tersebut mungkin boleh jadi pernah terbetik juga dalam hati kita, jika anda pelanggan majalah Inspirasi Usaha, saya membedahnya secara tuntas dan beredar pada edisi awal bulan depan nanti. Yang jelas saya ingin mengatakan bahwa, persoalan berpindah profesi adalah hal yang lumrah saja, selama masih berada dalam tataran ambang batas toleransinya. Bagaimanapun ada space untuk mengetahui kemistri yang kuat antara profesi yang digeluti dengan titik unggul kekuatan yang menjadi keunikan kita.

Namun hanya saja perlu disadari bahwa waktu terus merangkak, tinggalkan segudang kenangan yang tak pernah bisa di reset ulang. Ketika kita melakukan flash back ada  yang bisa membuat kita tersenyum bahagia, namun sangat banyak  juga orang yang menatapnya, menimbulkan segudang peneyesalan dan berakhir dengan onggokan kata: Andai saja, seandainya, jikalau dulu, andai aku dan sejenis andai-andai lainnya. Waktu terus berlalu, kita hanya sibuk menjadi “kotu loncat”. Alhasil tergilas dalam lintasan sang waktu.

So, Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Segera perlengkapi diri anda dengan blocking competence. Artinya segera putuskan profesi apa yang anda ingin geluti lalu alokasikan energi anda 100% tanpa sisa untuk menguasai critical skill alias keterampilan khusus yang di butuhkan untuk survive di bidang itu. Ingat tak ada hidup yang setengah-setengah, jadi terlibatlah secara utuh dan elegan.

Critical skill adalah merupakan keterampilan khusus yang mutlak adanya di setip profesi. Pelajarilah itu dengan sungguh-sungguh. Asahlah dengan kekuatan berbasis aturan 10.000 jam, melalui program terdisain.  Program terdisain itu menurut guru saya persis seperti berjalan kaki, lalu berkendara sepedah motor, berkendara mobil, lalu menjadi pilot bagi sebuah pesawat terbang.

Semua itu semakin merangkak ke posisi atas, semakin butuh ketrampilan khusus.  Itu semua perlu kita lakukan untuk menggenapi blocking competence kita, guna tetap survive dalam sebuah profesi pilihan anda.  Tanpa itu semua, saya khawatir akan berakhir dengan “Kisah sedih di hari minggu” He..he..he..

Akhirnya, Dermaga memang tempat terbaik dimana kapal lakukan tambatan, namun ketahuilah bukan itu tujuan utama dimana kapal dibuat. Stay humble, keep improving, tetap semangat dan teruslah bergerak. Saya Ar. Patiwi untuk kita semua semoga sukses selalu adanya. Salam Inspiring..! Salam SuksesMulia.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @RahmanPatiwi 

Views: 21

Comment

You need to be a member of TeDi to add comments!

Join TeDi

© 2020   Created by Ali Akbar - BISMA Founder.   Powered by

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service